Cara Mengobati Hepatitis C, Penyebab dan Cegah Penularannya

Cara mengobati Hepatitis C

Hepatitis C adalah infeksi yang terutama menyerang organ hati. Hepatitis C seringkali tidak memberikan gejala, namun infeksi kronis dapat menyebabkan parut (eskar) pada hati, dan setelah menahun menyebabkan sirosis. Dalam beberapa kasus, orang yang mengalami sirosis juga mengalami gagal hati, kanker hati, atau pembuluh yang sangat membengkak di esofagus dan lambung, yang dapat mengakibatkan perdarahan hingga kematian.

Seseorang terutama terkena hepatitis C melalui kontak darah, penggunaan narkoba suntik, peralatan medis yang tidak steril, dan transfusi darah. Para ilmuwan mulai meneliti HCV pada tahun 1970-an, dan memastikan keberadaan virus tersebut pada tahun 1989. Virus ini tidak diketahui menyebabkan penyakit pada hewan lain.

Peginterferon dan ribavirin merupakan obat-obatan standar untuk HCV. Antara 50-80% pasien yang diobati sembuh. Pasien dengan sirosis atau kanker hati mungkin memerlukan transplantasi hati, namun biasanya virus muncul kembali setelah transplantasi.  Tidak ada vaksin untuk hepatitis C.

Gejalanya seringkali ringan dan tidak kentara, termasuk penurunan nafsu makan, sakit kepala, letih, nyeri otot atau nyeri sendi, dan menurunnya berat badan. Hanya sedikit kasus infeksi akut yang terkait dengan ikterus. Infeksi ini dapat sembuh sendiri tanpa diobati pada 10-50% penderita, dan lebih sering menyerang perempuan usia muda dibandingkan dengan kelompok lain.

SARAN PENYEMBUHAN DAN PENGOBATAN
Sekitar 40-80% dari kasus ini dapat dibersihkan dengan pengobatan. Orang yang menderita hepatitis C kronis harus menghindari alkohol dan obat-obat yang dapat merusak hati dan harus mendapat vaksinasi untuk hepatitis A dan hepatitis B. Orang yang mengalami sirosis harus menjalani pemeriksaan ultrasonografi untuk mendeteksi kanker hati.

cara penularan hepatitis b

Orang yang terbukti mengalami kelainan hati karena infeksi HCV harus berobat. Pengobatan saat ini menggunakan kombinasi interferon pegilasi dan obat antivirus ribavirin selama 24 atau 48 minggu, bergantung pada tipe HCV. Efek samping pengobatan sering terjadi; setengah dari pasien yang diobati terserang gejala yang mirip flu, dan sepertiga dari mereka mengalami masalah emosional.

Pengobatan yang dilakukan dalam enam bulan pertama akan lebih efektif daripada pengobatan yang dilakukan setelah hepatitis C menjadi kronis. Jika seseorang mengalami infeksi baru dan virus belum dapat dihilangkan setelah delapan hingga dua belas minggu, pasien tersebut sebaiknya menjalani pengobatan interferon pegilasi selama 24 minggu. Bagi pasien dengan thalasemia (kelainan darah), ribavirin sepertinya dapat digunakan, namun meningkatkan kebutuhan akan transfusi.

Para ahli yang mendukung mengklaim terapi alternatif sebagai terapi yang bermanfaat pada hepatitis C termasuk milk thistle (silybum), ginseng, dan colloidal silver/perak koloid. Namun, belum ada terapi alternatif yang terbukti memberikan hasil yang lebih baik pada hepatitis C, dan tidak ada bukti bahwa terapi alternatif memberikan efek sedikitpun pada virus.

CEGAH PENULARANNYA
Di negara berkembang metode penularan utamanya adalah melalui transfusi darah dan prosedur medis yang tidak aman. Beberapa hal yang harus diwaspadai dan dihindari seperti :
1. Hindari penggunaan alat suntik yang digunakan bersama-sama dengan penderita
2. Transfusi darah, produk darah, dan transplantasi organ tanpa penapisan HCV menimbulkan risiko yang tinggi terkena infeksi.
3. Hindari hubungan seksual dengan penderita
4. Hindari penggunaan alat tindik dan tattoo uang digunakan bersama-sama
5. Hindari penggunaan alat cukur bersama-sama, karena besar kemungkinan alat tersebut terdapat darah penderita hepatitis C.
6. Belum dikaetahui dengan pasti ASI (Air Susus Ibu) dapat menularkan, tetapi ketika menyusui pastikan puting susu kondisinya sehat, tidak pecah-pecah dan berdarah.

Leave a Reply